Dengar Pendapat KPID, Pelaku Penyiaran dan Masyarakat

Sebagai wujud pelaksanaan tugas dan kewajiban untuk menampung, meneliti, dan menindaklanjuti aduan, sanggahan, serta kritik dan apresiasi masyarakat terhadap penyelenggaraan penyiaran, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sejak Mei 2009 membuka saluran pengaduan masyarakat melalui SMS. Sampai dengan akhir November, jumlah SMS yang masuk melalui nomor 0812 2789 4444 tidak kurang dari 284 item. Pengirim SMS ternyata tidak hanya dari DIY, tetapi juga ada dari wilayah Jawa Tengah seperti Temanggung, Magelang, Purworejo, dan Klaten. Isinya juga beragam. Sebagian besar isi SMS mengeluhkan tentang acara-acara televisi, terutama TV Swasta Jakarta, tetapi ada pula yang berharap agar daerahnya mendapat liputan dari TV swasta lokal.

Guna meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak, Sabtu, 12 Desember 2009 bertempat di Aula Dinas Perhubungan dan Kominfo DIY diselenggarakan Public Hearing (dengar pendapat) antara KPID, Pelaku Penyiaran TV, dan Masyarakat Peduli Tayangan Program TV. Acara yang berlangsung dari pukul 10.00-13.00 WIB itu diawali dengan pemaparan latar belakang penyelenggaraan public hearing yang disampaikan oleh ketua KPID DIY S. Rahmat Arifin. Menurutnya, acara ini bagian dari tugas KPID untuk melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan penyiaran di Indonesia. Dengan pelibatan masyarakat kontrol terhadap siaran televisi diharapkan semakin efektif.

Dengar pendapat yang dimoderatori anggota Komisioner Tri Suparyanto, menghadirkan pembicara dari KPID I Gusti Ngurah Putra dan Iswandi Syahputra, Direktur Operasional Program TPI Saifudin Kurdi, dan Direktur Operasional Jogja TV Eka Susanto. Dihadirkannya pihak TPI dan Jogja TV karena keduanya banyak disebut oleh pengirim SMS. Adapun peserta dengar pendapat sebagian besar adalah mereka yang telah mengirim SMS pengaduan ke KPID, dan selebihnya adalah warga yang peduli terhadap tayangan program televisi.

Menurut Ngurah Putra, banyaknya SMS yang masuk ke KPID menunjukkan adanya energi yang luar biasa besar pada masyarakat sehingga kalau diarahkan dengan baik hal itu akan dapat memerbaiki kualitas tayangan televisi di Indonesia. Oleh karena itu kepada masyarakat diharapkan agar data yang disampaikan melalui SMS cukup jelas, setidaknya mengandung informasi mengenai nama stasiun tv yang dimaksud, tanggal, jam siaran, nama acara dan bentuk pelanggaran yang mengacu pada P3 – SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran) KPI. dildalam mengirim SMS menggunakan bahasa. Ngurah juga mengharapkan agar perhatian publik tidak hanya terfokus pada program seperti reality show, sinetron dan acara hiburan lain, tetapi tidak kalah pentingnya untuk memerhatikan program berita yang sebenarnya juga banyak bermasalah.

Sedangkan menurut Iswandi, banyaknya SMS merupakan indikasi meningkatnya daya kritis masyarakat terhadap tayangan program televisi. Hal itu tidak lepas dari upaya KPID untuk meningkatkan kesadaran kritis masyarakat dalam menonton televisi. Dalam dua tahun terakhir KPID DIY telah menjalin kerjasama dengan 17 Orginisasi Massa, dan 5 Perguruan Tinggi yang memiliki program studi/jurusan komunikasi untuk melakukan pendidikan (literasi) media sampai di tingkat akar rumput. KPID juga telah melakukan pendidikan literasi media bagi 100 Guru TK di DIY sehingga diharapkan dapat menjadi agen untuk menumbuhkan sikap kritis di kalangan anak-anak.

Selaku anggota Komisioner Bidang Kerjasama, Iswandi menghimbau kepada para peserta dengar pendapat yang terdiri dari SMSer agar menghimpun diri dalam suatu komunitas pemantau program tv. Menurutnya, jika komunitas terorganisasi dengan baik akan menjadi kekuatan tersendiri dalam melakukan kontrol terhadap tayangan program televisi.

Sementara pihak Jogja TV dalam forum itu menjelaskan tentang dilema tayangan program pengobatan alternatif. Pada satu sisi, program itu memberikan pemasukan finansial yang dapat dipakai untuk melakukan subsidi silang bagi produksi program kultural yang tidak menarik pengiklan. Namun, di sisi lain banyak masukan mengenai program yang satu ini. Jalan tengahnya, pihak Jogja TV telah mengurangi frekuensi penyiaran program pengobatan alternatif, dan bahkan sempat menolak tawaran program sejenis meskipun imbalan yang ditawarkan cukup besar. Keputusan untuk tidak menerima tawaran itu diambil agar tidak menimbulkan reaksi negatif di kalangan masyarakat.

Pihak TPI yang paling banyak disebut dalam SMS masyarakat menjelaskan tentang problem yang dihadapi pihak stasiun TV dalam penayangan setiap program. “Karyawan TPI digaji dengan uang, bukan dengan idealisme sehingga setiap program yang dibuat harus dapat mendatangkan iklan”, kata Saifudin. Akibatnya terjadi persaingan program yang sangat ketat dengan stasiun lain. Namun, semua itu tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang tidak lazim. “Hanya satu-satunya Indonesia yang memberikan izin kepada sepuluh stasiun televisi swasta untuk bersiaran dengan daya jangkau nasional”, tegas Saifudin. Akibat kebijakan yang demikian itu muncul persaingan yang brutal, buas, dan cepat mengalami kejenuhan. Oleh karena itu Saifudin berharap agar pihak KPI/KPID lebih mengedepankan pola silaturahmi sebelum menjatuhkan sanksi mengingat beratnya persaingan antarstasiun televisi.

Hadir dan memberikan sambutan dalam acara pembukaan, antara lain Kepala Dinas Perhubungan dan Kominfo Mulyadi Mulyono mewakili Gubernur DIY, dan Anggota Komisi A DPRD DIY Eddy Wibowo. Dalam sambutan tertulisnya Gubernur berharap agar dialog ini tidak hanya menjadikan masyarakat memahami kesulitan yang dihadapi dunia penyiaran, tetapi sebaliknya pihak penyelenggara penyiaran juga makin mengetahui kebutuhan masyarakat akan program televisi. Sementara Edy Wibowo berharap, kegiatan yang merupakan bagian dari literasi media ini akan dapat melahirkan generasi remaja yang memiliki daya cegah tinggi untuk tidak menonton acara-acara tv yang belum waktunya mereka lihat. (Laporan: Darmanto)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: